HUBUNGAN PERAN DAN PROGRAM PEMBERDAYAAN WANITA TERHADAP PENINGKATAN TARAF EKONOMI MASYARAKAT NELAYAN

Abstrak

            Pada hakikatnya, wanita hanya berperan di dalam sektor domestic dalam rumah tangga seperti dalam keluarga seperti mencuci, membersihkan rumah, menyapu, memasak, menyiapkan anak-anak ke sekolah, dll. Namun, ketika pendapatan yang dihasilkan oleh suami yang berprofesi sebagai nelayan belum cukup untuk memenuhi segala kebutuhan rumah tangga, wanita diharuskan berperan aktif di sektor publik untuk mencari nafkah tambahan. Nelayan memang memiliki karakteristik berbeda dengan masyarakat industri atau masyarakat lainnya. Kondisi iklim dan hasil tangkapan yang tidak menentu, membuat nelayan harus beradaptasi dengan kondisi pendapatan yang tidak menentu. Kondisi seperti itu menuntut kontribusi wanita dalam menyokong pendapatan rumah tangga. Untuk itu, perlu adanya pemberdayaan bagi istri-istri nelayan dalam rangka optimalisasi peran wanita dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga. Pemberdayaan yang dilakukan adalah melibatkan wanita dalam kegiatan ekonomi produktif seperti budidaya ikan, pengolahan ikan, pemasaran ikan, serta usaha jasa yang mendukung seperti penyediaan sarana produksi lainnya. Makalah ini menggunakan metode data sekunder dimana data-data untuk menyusun makalah ini didapat dari literatur seperti buku, jurnal, dan internet.

 

Kata Kunci: peran wanita, nelayan, pendapatan, pemberdayaan.

 

 

KATA PENGANTAR

 

Masyarakat nelayan memiliki karakteristik sosial ekonomi yang berbeda dengan masyarakat industri atau masyarakat lainnya. Perbedaan ini disebabkan oleh keterkaitan yang erat terhadap karakteristik ekonomi, ketersediaan sarana dan prasarana ekonomi, maupun budaya. Kondisi sosial ekonomi masyarakat nelayan dapat dikatakan memprihatinkan. Hal itu terjadi karena hambatan fisik yang besar dan kondisi iklim yang tidak menentu membuat daya tahan ekonomi rumah tangga nelayan rendah. Kondisi seperti itu menuntut semua anggota keluarga untuk ikut berperan serta dalam meningkatkan kehidupan ekonomi keluarga. Perempuan memiliki kontribusi yang cukup besar terhadap ekonomi rumah tangga. Peran perempuan dapat dioptimalkan melalui pengembangan usaha ekonomi produktif, yang sekaligus merupakan salah satu cara dalam rangka pemberdayaan perempuan nelayan. Kegiatan pemberdayaan perempuan nelayan melalui swadaya perempuan itu sendiri, diharapkan dapat menghasilkan berbagai produk unggulan dari potensi sumberdaya perikanan yang dibarengi dengan pendampingan manajemen usaha, kewirausahaan serta teknologi tepat guna yang mengarah pada peningkatan mutu atau kualitas produk. Hal ini akan semakin meningkatkan peran perempuan nelayan tersebut untuk perekonomian keluarga.

 

Puji syukur penulis panjatkan ke khadirat Tuhan Ynag Maha Kuasa, karena atas berkat dan rahmat-Nya, akhirnya penulis bisa menyelesaikan makalah ini. Tak lupa penulis ucapkan terima kasih pada pihak-pihak yang baik secara langsung atau pun tidak langsung telah membantu proses penulisan makalah yang berjudul “Hubungan Peran dan Program Pemberdayaan Wanita terhadap Peningkatan Kehidupan Ekonomi Masyarakat Nelayan” dari awal hingga akhir.

 

Secara garis besar, makalah ini akan membahas hubungan peran dan program pemberdayaan wanita terhadap peningkatan kehidupan ekonomi masyarakat nelayan.

 

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Penulis ucapkan maaf jika makalah ini belumlah sempurna. Penulis sadar, masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan.

 

Bogor, Desember 2011

 

 

Anggita Widaningsih

I34100018

 

 

Daftar Isi

 

Abstrak…………………………………………………………………………………………………. i

Kata Pengantar………………………………………………………………………………………. ii

Daftar Isi ……………………………………………………………………………………………… iii

PENDAHULUAN………………………………………………………………………………… 1

PERAN WANITA DALAM KEHIDUPAN EKONOMI

Peran Wanita…………………………………………………………………………………………. 2

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Peran Wanita dalam Kehidupan Ekonomi

Masyarakat Nelayan ………………………………………………………………………………. 2

Pemberdayaan Wanita dan Usaha Ekonomi Produktif……………………………….. 3

KONSEP PEMBERDAYAAN UNTUK MENGOPTIMALKAN PERAN

WANITA DALAM MENINGKATKAN KEHIDUPAN EKONOMI

MASYARAKAT NELAYAN

Konsep Pemberdayaan Wanita………………………………………………………………… 4

SIMPULAN…………………………………………………………………………………………. 6

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………………. 7

 

 

Pendahuluan

 

Masyarakat nelayan memiliki karakteristik yang berbeda dari masyarakat lainnya. Hal itu membuat mereka harus memiiliki strategi nafkah yang berbeda untuk memenuhi kebutuhan hisup mereka.  Bahri (1995), mengemukakan bahwa lingkungan fisik nelayan mempunyai karakteristik yang berbeda dengan petani. Sumberdaya perikanan mempunyai sifat sulit diramal serta sasaran target operasi penangkapannya hidup dan liar. Hal ini membuat usaha perikanan mempunyai resiko kerusakan dan kerugian yang tinggi serta pola pendapatan yang fluktuatif. 

Dalam keadaan ekonomi yang tidak menentu, membuat nelayan harus mampu untuk menyesuaikan diri, antara lain dengan memanfaatkan anggota rumah tangga untuk membantu meningkatkan pendapatan keluarga. Dalam hal ini, istri para petani merupakan anggota rumah tangga yang memiliki potensi dalam membantu meningkatkan pendapatan keluarga. Penduduk wanita yang jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan penduduk pria merupakan sumber daya pembangunan yang cukup besar. Partisipasi aktif pria dan wanita dalam setiap proses pembangunan akan mempercepat tercapainya tujuan pembangunan. Wanita-wanita nelayan mempunyai potensi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat nelayan, dimana posisi wanita yang selama ini hanya berfungsi sebagai ibu rumah tangga ditingkatkan sebagai pencari nafkah. Untuk itu perlu diadakannya pemberdayaan bagi istri-istri nelayan. Optimalisasi peran wanita nelayan dalam pembangunan pesisir hanya dapat dilakukan melalui integrasi kebijakan pembangunan dan pemberdayaan perempuan ke dalam kebijakan nasional, propinsi atau kabupaten/kota baik pada ranah perencanaan, pelaksanaan, pemantauan maupun evaluasi pembangunan.

Saya akan menganalisis peran wanita dalam kehidupan ekonomi masyarakat dan faktor-faktor yang mempengaruhi peran wanita dalam rangka peningkatan kehidupan ekonomi serta program pemberdayaan yang efektif untuk mengoptimalkan peran wanita. Adapun tujuan dari penulisan antara lain untuk mengkaji peran wanita dalam kehidupan ekonomi masyarakat dan faktor-faktor yang mempengaruhi peran wanita dalam kehidupan ekonomi serta menganalisis program pemberdayaan yang efektif untuk mengoptimalkan peran wanita dalam kehidupan ekonomi masyarakat.

 

 

PERAN WANITA DALAM KEHIDUPAN EKONOMI

Peran Wanita

Pada hakikatnya, wanita diberi peran di sektor domestik dalam keluarga seperti mencuci, membersihkan rumah, menyapu, memasak, menyiapkan anak-anak ke sekolah, dll. Peran tersebut tidak pernah lepas dari aktifitas mereka sehari-hari karena sudah menjadi keharusan disamping tidak ada lagi yang membantu dirumah. Peran wanita dalam mengelola sumberdaya keuangan sangatlah dominan. Manajemen rumah tangga nelayan sangat memungkinkan pentingnya peran istri terutama dalam pengelolaan keuangan rumah tangga. Wanita juga berperan dalam proses pengambilan keputusan dalam rumah tangga mengingat para suami telah sibuk mencari nafkah. Wanita memiliki peran ganda yaitu sebagai pencari nafkah ketika pendapatan suami tidak cukup untuk mecukupi kebutuhan rumah tangga mereka. Menurut Nursyahbani (1999), wanita didorong untuk berpartisipasi secara aktif di sektor public, sekaligus tetap harus menjalankan fungsinya sebagai istri dan ibu. Peran ganda wanita terjadi pada wanita pesisir.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Peran Wanita dalam Kehidupan Ekonomi Masyarakat Nelayan

       Keadaan perekonomian yang semakin tidak menentu, kesempatan kerja semakin terbatas karena persaingan yang semakin ketat, harga-harga kebutuhan pokok yang semakin meningkat, pendapatan keluarga yang cenderung tidak meningkat akan berakibat pada terganggunya stabilitas perekonomian keluarga. Kondisi inilah yang mendorong ibu rumah tangga yang sebelumnya hanya menekuni sektor domestik, kemudian ikut berpartisipasi di sektor public dengan ikut serta menopang perekonomian keluarga.

            Keberadaan wanita sebagai penyokong kebutuhan ekonomi rumah tangga sangat dibutuhkan mengingat para suami yang bekerja sebagai nelayan tidaklah dapat digantungkan dari sisi penghasilan. Nelayan adalah mereka yang menggantungkan penghidupannya kepada hasil laut. Kehidupan sehari-hari nelayan laki-laki mempunyai pekerjaan melaut, menangkap ikan dan menjualnya. Pergi berlayar mencari ikan sama dengan berspekulasi karena kemungkinan antara mendapat tangkapan ikan dengan tidak mendapat tangkapan adalah 50%. Jika nelayan akan pergi melaut dibutuhkan modal yang cukup besar untuk kebutuhan selama di laut, kemungkinan nelayan merugi karena tidak mendapatkan hasil tangkapan akan semakin menambah keterpurukan ekonomi rumah tangga. Permasalahan ketidakmampuan nelayan untuk produktif sepanjang musim menjadi salah satu penyebab daya tahan ekonomi rumah tangga nelayan rendah. Di musim paceklik, nelayan tidak akan mendapatkan penghasilan apabila tidak memiliki mata pencaharian alternative, atau melibatkan keluarga untuk menghasilkan uang guna memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga. Peran serta wanita dalam meghasilkan uang menjadi salah satu alternative untuk menyiasati kekosongan penghasilan nelayan di musim paceklik, dan menambah daya tahan ekonomi rumah tangga nelayan di saat musim panen.

        Istri nelayan harus bekerja dengan motivasi utama mecari tambahan pengahsilan dalam usaha memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga mereka sepertinya sudah menjadi keharusan. Kondisi ekonomi keluarga dimana jumlah kebutuhan semakin meningkat dengan bertambahnya anggota keluarga yaitu anak-anak serta biaya-biaya sosial lain seperti pendidikan, kesehatan, dan sosial. Sementara penghasilan suami yang hanya sebagai buruh nelayan sangatlah tidak cukup untuk memenuhi segala kebutuhan tersebut. Suami-suami nelayan hanya mengandalkan hasil tangkapan ikan dari aktifitas bekerja mereka di laut, diaman unsure gambling antara mendapat tangkapan ikan selalu ada. Untuk nelayan yang bekerja pada boss/pemilik kapal, mereka harus membagi keuntungan dari hasil tangkapan yang didapat selama berlayar dengan waktu sekitar 20 hari. Kesempatan peran wanita nelayan memiliki peluang yang cukup baik dalam meningkatkan perekonomian rumah tangga karena suami mereka memiliki kebiasaan yang baik yaitu menyerahkan hasil usaha melaut mereka kepada kaum wanita dan sekaligus memberikan kepercayaan kepada wanita untuk mengelola. Wanita pesisir juga dapat bekerja dalam berbagai jenis pekerjaan baik yang berhubungan dengan sektor perikanan maupun yang tidak berhubungan dengan sektor perikanan. Peran wanita dapat dilibatkan dalam kegiatan ekonomi produktif. Bentuk-bentuk ekonomi produktif tersebut dapat merupakan usaha budidaya ikan, pengolahan ikan, pemasaran ikan, serta usaha jasa yang mendukung seperti penyediaan sarana produksi lainnya. 

Pemberdayaan Wanita dan Usaha Ekonomi Produktif

Hikmat (2004) mengemukakan pembagian peran yang sejajar khususnya dari aspek ekonomi perikanan dimana wanita mengurusi pasca panen dan pemasaran hasil perikanan termasuk pengawetan, pengolahan, distribusi dan pemasaran hasil, sementara pria pada aspek produksi melalui kegiatan penangkapan ikan dapat menjadi salah satu cara mendorong partisipasi wanita yang lebih baik. Peran ini didasari pada berbagai kesulitan dalam kegiatan produksi perikanan laut. Penguatan aspek pasca panen dan pemassaran tidak hanya bermakna bagi para wanita nelayan, tetapi aktivitas perikanan secara keseluruhan karena aspek ini menjadi titik terlemah kegiatan produksi perikanan.

            Program penguatan dapat dilakukan misalnya melalui penguatan kelembagaan usaha berbasis kelompok. Penguatan ini memiliki makna positif karena dapat memperkuat bargaining position para wanita terhadap pesaing yang umumnya kaum pria dengan modal yang lebih besar, mempermudah akses terhadap modal, pasar, informasi, dan teknologi. Pada akhirnya, pengembangan program pembangunan yang berbasis perikanan dan kelautan yang terpadu dengan kegiatan lainnya seperti wisata bahari merupakan peluang besar bagi aktualisasi peran istri nelayan.

            Hikmah (2007) menyatakan pengembangan usaha ekonomi produktif oleh kelompok pemanfaat yang merupakan kelompok-kelompok kecil yang memiliki kesamaan usaha, aspirasi dan tujuan. Kegiatan ekonomi produktif yang dilakukan tentu saja berdasarkan atas potensi sumberdaya alam yang tersedia, peluang pasar, kemampuan dan penguasaan teknologi oleh masyarakat, serta dukungan adat dan budaya. Bentuk-bentuk kegiatan ekonomi produktif tersebut dapat merupakan usaha budidaya ikan, pengolahan ikan, pemasaran ikan, serta usaha jasa yang mendukung seperti penyediaan sarana produksi lainnya.

 

 

 

 

 

KONSEP PEMBERDAYAAN UNTUK MENGOPTIMALKAN PERAN WANITA DALAM MENINGKATKAN KEHIDUPAN EKONOMI MASYARAKAT NELAYAN

 

Konsep Pemberdayaan Wanita

Mengenai penjelasan tentang konsep pemberdayaan wanita penulis setuju dengan penjelasan Hikmat sebagai berikut:

 “… Konsep pemberdayaan dalam wacana pembangunan masyarakat selalu dihubungkan dengan konsep mandiri, partisipasi, jaringan kerja dan keadilan. Pada dasarnya, pemberdayaan diletakkan pada kekuatan tingkat individu dan sosial. Partisipasi merupakan komponen penting dalam pembangkitan kemandirian dan proses pemberdyaan. Sebaiknya orang-orang harus terlibat dalam proses tersebut sehingga mereka dapat lebih memperhatikan hidupnya untuk memperoleh rasa percaya diri, memiliki harga diri dan pengetahuan untuk mengembangkan keahlian baru. Prosesnya dilakukan secara kumulatif sehingga semakin banyak keterampilan yang dimiliki seseorang semakin baik pula kemampuan partisipasinya. …” ( Hikmat 2004).

            Wahyono et al. (2001) dalam Surjono dan Nugroho (2007) menyatakan bahwa pendekatan pemberdayaan masyarakat dengan penekanan pada pentingnya masyarakat lokal yang mandiri sebagai suatu sistem yang mengorganisasikan diri mereka sendiri. Pendekatan pemberdayaan masyarakat seperti itu diharapkan memberikan peranan kepada individu bukan sebagai objek tetapi sebagai pelaku (actor) yang menentukan hidup mereka.

            Pendekatan pemberdayaan masyarakat yang berpusat pada manusia ini kemudian melandasi wawasan pengelolaan sumber daya lokal sebagai mekanisme perencanaan yang menekankan pada teknologi pembelajaran sosial dan strategi perumusan program. Tujuan yang ingin dicapai adalah utuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengaktualisasikan dirinya.

            Surjono dan Nugroho (2007) menyatakan terdapat tiga pendekatan dalam pemberdayaan masyarakat miskin, yakni (1) pendekatan yang terarah artinya pemberdayaan masyarakat harus terarah dan berpihak kepada orang miskin, (2) pendekatan kelompok, artinya secara bersama-sama untuk memudahkan pemecahan masalah yang dihadapi, dan (3) pendekatan pendampingan, artinya dilakukan selama proses pembentukan dan penyelenggaraan kelompok masyarakat miskin perlu didampingi oleh pendampingan yang profesional sebagai fasilitator, komunikator, dan dinaminisator  terhadap kelompok untuk mempercepat tercapainya kemandirian.

            Pada dasarnya, pemberdayaan masyarakat merupakan suatu proses di mana masyarakat (khususnya yang kurang memiliki akses kepada sumber daya pembangunan) didorong untuk meningkatkan kemandirian dalam mengembangkan perikehidupan mereka. Terdapat empat strategi yang ditawarkan dalam memberdayakan masyarakat di tingkat kelurahan atau desa yaitu (1) memberdayakan masyarakat dengan “mensosialisasikan” peran masyarakat sebagai subjek, (2) mendayagunakan “mekanisme” penyelenggaraan pembangunan/pemberdayaan masyarakat secara lebih aspiratif atau demokratis, efektif dan efisien, (3) mobilisasi “sumber daya” manusia seperti tenaga, pikiran, dan kemampuan sesuai profesionalismenya, dan (4) memaksimalkan peran pemerintah khususnya pemerintahan kelurahan atau desa dalam memfasilitasi dan mengatur agar penyelenggaraan pembangunan atau pemberdayaan masyarakat berjalan lancar (Prasojo 2004). Selain itu, untuk memberdayakan masyarakat harus pula melalui proses pendekatan yang tidak membuat aneh dan kaget serta curiga masyarakat sehingga pemberdayaan dapat diterima oleh masyarakat. Seperti yang dikemukakan oleh tokoh gerakan pembangunan masyarakat China, Y.C Yen (1920) dalam Islami (2004) yang mengatakan bahwa setiap penggerak pembangunan yang akan memberdayakan masyarakat harus melakukan hal-hal sebagai berikut.

1)      Go to people, mendatangi masyarakat yang hendak diberdayakan.

2)      Live among the people, hidup dan tinggallah dengan mereka agar kita mengenal dengan baik kepentingan dan kebutuhannya.

3)      Learn from the people, belajarlah dari mereka supaya dapat dipahami apa yang ada dibenak mereka, potensi apa yang mereka miliki.

4)      Plan with the people, ajak dan ikut sertakan masyarakat dalam proses perencanaan.

5)      Work with the people, ajak dan libatkan mereka dalam proses pelaksanaan rencana.

6)      Start with what the people know, mulailah dari apa yang masyarakat ketahui dan pahami.

7)      Build on what the people have, bangunlah sesuatu dari modal yang dimiliki masyarakat.

8)      Teach by showing, learn by doing, ajarilah masyarakat dengan contoh konkret/nyata.

9)      Not a showcase, but a pattern, mereka jangan dipameri dengan sesuatu yang menyilaukan, tetapi berikanlah kepada mereka suatu pola.

10)  Not adds and ends, but a system, jangan tunjukkan kepada mereka sesuatu yang aneh dan akhir dari segalanya tetapi berikanlah kepada mereka suatu sistem yang baik dan benar.

11)  Not piecemeal, but integrated approach, jangan menggunakan pendekatan yang sepotong-potong, tetapi pendekatan meyeluruh dan terpadu.

12)  Not relief but release, jangan berikan penyelesaian akhir kepada mereka tetapi beri kebebasan kepada mereka sendiri untuk meneyelesaikan permasalahan.

Dengan adanya 12 prinsip diharapkan pemberdayaan masyarakat dapat berjalan dengan baik sesuai dengan yang diharapkan. Namun demikian dengan makin berkembangnya pembangunan, perempuan mempunyai peranan yang nyata didalamnya. Program pemberdayaan yang sesuai merupakan salah satu cara dalam mengoptimalkan peran wanita dalam meningkatkan taraf ekonomi rumah tangga. Apabila peran wanita sudah dapat dioptimalkan, tentunya hal ini dapat membuat ekonomi keluarga meningkat karena wanita ikut beperan serta didalam sektor publik.

 

SIMPULAN

            Pada hakikatnya, wanita diberi peran di sektor domestik dalam keluarga seperti mencuci, membersihkan rumah, menyapu, memasak, menyiapkan anak-anak ke sekolah, dll. peran tersebut tidak pernah lepas dari aktifitas mereka sehari-hari karena seudah menjadi keharusan disamping tidak ada lagi yang membantu di rumah.

       Keberadaan wanita sebagai penyokong kebutuhan ekonomi rumah tangga sangat dibutuhkan mengingat para suami yang bekerja sebagai nelayan tidaklah dapat digantungkan dari sisi penghasilan. Di musim paceklik, nelayan tidak akan mendapatkan penghasilan apabila tidak memiliki mata pencaharian alternative, atau melibatkan keluarga untuk menghasilkan uang guna memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga. Peran serta wanita dalam meghasilkan uang menjadi salah satu alternative untuk menyiasati kekosongan penghasilan nelayan di musim paceklik, dan menambah daya tahan ekonomi rumah tangga nelayan di saat musim panen. Wanita pesisir dapat bekerja dalam berbagai jenis pekerjaan baik yang berhubungan dengan sektor perikanan maupun yang tidak berhubungan dengan sektor perikanan. Peran wanita dapat dilibatkan dalam kegiatan ekonomi produktif. Bentuk-bentuk ekonomi produktif tersebut dapat merupakan usaha budidaya ikan, pengolahan ikan, pemasaran ikan, serta usaha jasa yang mendukung seperti penyediaan sarana produksi lainnya. 

       Besarnya kontribusi istri-istri nelayan terhadap ekonomi rumah taqngga merupakan salah satu wujud kemampuan dan kemandirian kaum wanita di daerah pesisir di dalam berusaha menopang ekonomi keluarganya. Peran ini jika dikemabngkan sebagai suatu usaha yang mandiri dan professional, bukan tidak mungkin tingkat kesejahteraan keluarganya menjadi meningkat. Salah satu langkah awal untuk mewujudkannya adalah dengan optimalisasi peran perempuan nelayan dalam pembangunan pesisir melalui pengembangan usaha ekonomi produktif bagi wanita nelayan.

       Peran wanita dapat dioptimalkan apabila faktor penghambat yang melingkupinya dapat teridentifikasi dengan baik. Berbagai program pembangunan ke depan perlu menyediakan kesempatan kepada wanita nelayan. Optimalisasi peran wanita nelayan dalm pembangunan pesisir hanya dapat dilakukan melalui integrasi kebijakan pembangunan dan pemberdayaan perempuan ke dalam kebijakan nasional, provinsi atau kabupaten/kota baik pada ranah perencanaan, pelaksanaan, pemantauan maupun evaluasi pembangunan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim. [tidak ada tahun]. Pemberdayaan nelayan dalam upaya mengurangi kemiskinan di kalangan nelayan di Indonesia. [internet]. [diunduh 9 November 2011]. Dapat diunduh dari : http://www.resources.unpad.ac.id

Astuti YP, Hartati S, Widiati NI. 2008 November. Peran dan potensi wanita pesisir dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi rumah tangga. SOSEKHUM. [internet].[diunduh 9 November 2011]. 4(5) : 70-76. Dapat diunduh dari : http://www.isjd.pdii.lipi.go.id

Fakih M. 1996. Analisis gender dan transformasi sosial. Yogyakarta [ID] : Pustaka Pelajar.

Hikmah, Istiana. 2007. Gender dalam rumah tangga masyarakat nelayan. Jakarta [ID] : Badan Riset Kelautan dan Perikanan.

Hikmat. 2004. Strategi pemberdayaan masyarakat. Bandung [ID] : Humanoira utama.

Islami M. 2003. Dasar-dasar administrasi publik dan manajemen publik. Malang [ID] : Program Studi Ilmu Administrasi Program Pascasarjana Univ. Brawijaya.

Kusnadi. 2003. Akar kemiskinan nelayan. Yogyakarta [ID] : LkiS.

Wahyono A. 2001. Pemberdayaan masyarakat nelayan. Jogjakarta [ID] : Media Pressindo.

Wahyuni ES. 2010 Juli. Perempuan petani dan penanggulangan kemiskinan. Agrimedia. [internet]. [diunduh 9 November 2011]. Dapat diunduh dari : http://www.agrimedia.mb.ipb.ac.id 

Zein A. 2006. Peningkatan ekonomi rumah tangga nelayan melalui pemberdayaan wanita nelayan. Mangrove dan pesisir. [internet]. [diunduh 9 november 2011]. 6(1) : 11-22. Dapat diunduh dari : http://www.fpik.bunghatta.ac.id

 

 

 

 

 

 

Resume Kuliah Perilaku Konsumen

Consumer Behaviour Class (Kelas Perilaku Konsumen) Tuesday Afternoon Department of Family and Consumer Science-College of Human Ecology-Bogor Agricultural University
Lecturer :
Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, MSc.
Session 1 : http://www.ujangsumarwan.blog.ipb.ac.id

Manfaat Mempelajari Perilaku Konsumen
Oleh : Anggita Widaningsih, Mayor Science Communication and Community Development
College of Human Ecology

Motivasi muncul karena adanya kebutuhan yang dirasakan oleh konsumen. Kebutuhan yang dirasakan tersebut mendorong seseorang untuk melakukan tindakan memenuhi  kebutuhan tersebut. Inilah yang disebut sebagai motivasi.

Kebutuhan yang dirasakan (felt needs) menjadi 2, yaitu :

1. Kebutuhan utilitarian, kebutuhan yang dirasakan karena manfaat fungsional.

2. Kebutuhan ekspresive atau hedonik, kebutuhan yang bersifat psikologis.

Perilaku (tindakan) adalah berorientasi tujuan. Artinya untuk memenuhi kebutuhannya, seorang konsumen harus memiliki tujuan akan tindakannya. Tujuan ada karena adanya kebutuhan.

TEORI MASLOW

Dr. Abraham Maslow adalah seorang psikolog klinis yang memperkenalkan teori kebutuhan berjenjang atau sering dikenal sebagai Teori Maslow. berikut model Hirarki Kebutuhan Maslow dilihat dari tingkat yang paling dasar :

1. Kebutuhan Fisiologi, yaitu kebutuhan tubuh manusia untuk mempertahankan hidup.

2. Kebutuhan Rasa Aman, yaitu kebutuhan perlindungan fisik bagi manusia.

3. Kebutuhan Sosial, yaitu kebutuhan yang berdasar kepada perlunya manusia berhubungan dengan manusia yang lain.

4. Kebutuhan Ego, yaitu kebutuhan intuk berprestasi.

5. Kebutuhan Aktualisasi Diri, yaitu keinginan seseorang untuk menjadikan dirinya sebagai orang yang terbaik sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimilikinya.

My Story

Jujur, pada saat ditugaskan untuk membuat cerita inspirasi dari pengalaman hidup sendiri  saya  sempat bingung apakah cerita pengalaman hidup saya ini dapat menginspirasi orang lain atau tidak. Pada saat itu saya masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Ayah saya mulai men”design” kehidupan saya. Beliau menginginkan saya untuk menuntut ilmu di kota Bandung yang notabenenya saya tidak punya tempat tinggal dan kerabat dekat disana yang artinya saya harus hidup ngekost dan memulai kehidupan saya sendiri tanpa orang tua. Pada saat itu saya berpikir bahwa ayah saya “jahat”. Gimana engga,  ayah saya seolah “membuang” saya ke kota yg bahkan belum pernah saya kunjungi  pada saat itu. Yeah, he is a crazy daddy. Terjadi penolakan yg luar biasa pada saat itu,tapi ayah saya tetap pada pendiriannya. Beliau memiliki moto “tempalah besi selagi panas”. Karena belaiu adalah ayah saya,mau nggak mau saya harus menuruti keinginan “gila” ayah saya.  Oke, akhirnya saya hidup di Bandung. Hidup di Bandung ternyata tidak semudah yang dibayangkan . Atsmofer pergaulan anak muda Bandung bisa dibilang ekstrem, jauh berbeda dengan pergaulan  di Purwakarta tempat saya berasal. Dikondisi saya yang masih sangat labil saat itu,saya dihadapkan pilihan : menjadi  anak yang nakal atau menjadi anak yang dapat mengukir prestasi. Hari demi hari saya lewati dengan tangisan. Saya ngerasa ngga sanggup tinggal sendiri,yah benar-benar sendiri tanpa keluarga. Setiap saya mengeluh, ayah saya selalu bilang “ayo, kamu bisa dek, kamu bisa ! anak bapak ga boleh ngeluh”. Ngga  jarang juga saya minta kembali ke rumah. Tapi ya itu, ayah saya selalu ngepush saya kalau saya pasti bisa.

Hari-hari disekolah saya yang baru inipun terasa semakin berat. Banyak sekali yang melihat saya dengan sebelah mata. Mereka menganggap saya “anak kampung” yang mereka pikir itu bodoh. Saya mulai ngerasa down. Bagaimana tidak, setiap saya melangkah, saya selalu dianggap remeh oleh mereka. Mulai saat itu, saya bertekad dalam hati bahwa saya akan membuktikan pada mereka kalo  kehadiran saya disini memiliki “arti”.

Saya mulai belajar membiasakan diri dengan lingkungan sekitar. Saya mulai belajar dengan sungguh-sungguh agar bisa mendapatkan ranking 1. Tujuannya adalah agar mereka menghargai saya dan tidak menganggap saya bodoh lagi.

Suatu hari, saat pembagian rapor nilai, ternyata saya mendapatkan ranking 1 dikelas perasaan saya saat itu bangga sekali. Gimana engga, dulu saya nothing dan kini saya menjadi something. Itu semua berkat usaha saya selama ini. Terbukti saat itu pula teman-teman saya yang dulu menganggap remeh saya mulai menghargai saya.

Selama 3 tahun saya mempertahankan peringkat  1 itu di sekolah sehingga saya bisa mendapatkan tiket emas ke IPB. Ternyata ide ayah saya yang dulu saya anggap “gila” itu justru sekarang memiliki arti. Saya bisa menjadi gadis yang sangat mandiri saat ini karena beliau. Thank’s Dad, i’m so proud of you.

 

http://anggitawidasariwordpress.com

Seseorang yang Menginspirasi Saya

BIOGRAFI SOCRATES
Socrates dilahirkan di Athena ( 470 S.M – 399 S.M ). Dia bukan keturunan bangsawan atau orang berkedudukan tinggi. Melainkan anak dari seorang pemahat bernama Sophroniscus dan ibunya seorang bidan bernama Phaenarete. Setelah ayahnya meninggal dunia, Socrates manggantikannya sebagai pemahat. Tetapi akhirnya ia berhenti dari pekerjaan itu dan bekerja dalam lapangan filsafat dengan dibelanjai oleh seorang penduduk Athena yang kaya.1
Masa Socrates bertepatan dengan masa kaum sofis. Karena itu pokok pembahasan filsafat Socrates hampir sama dengan pokok pembahasan kaum sofis. Sebab itu ada orang yang memasukkan Socrates kedalam golongan kaum sofis. Tetapi ini tidak betul, karena ada perbedaan yang nyata antara pendapat Socrates dan pendapat kaum sofis itu.
Tetapi dengan sekuat tenaga Socrates menentang ajaran para sofis. Ia membela yang benar dan yang baik sebagai nilai obyektif yang harus diterima dan dijunjung tinggi oleh semua orang. Dalam sejarah umat manusia, Socrates merupakan contoh istimewa dan selaku filosof yang jujur juga berani.
Socrates mempunyai kepribadian yang sabar, rendah hati, yang selalu menyatakan dirinya bodoh. Badannya tidak gagah sebagi biasanya sebagai penduduk Athena. Meskipun dia orang yang berilmu, tapi dia dalam memilih orang yang jadi istri bukan dari golongan orang baik-baik dan pandai.
Socrates selalu mengakui bahwa dia adalah seorang yang bodoh. Sebab dia belum mengenal dirinya sendiri. Dia tidak akan dapat mengetahui sesuatu apapun kecuali kalau dia telah mengetahui dirinya sendiri. Sebab itu haruslah dia mengenal dirinya lebih dulu. Maka dijadikanlah diri manusia oleh Socrates jadi sasaran filsafat, dengan mempelajari substan dan sifat – sifat diri itu. Dengan demikian menurut Socrates filsafat hendaklah berdasarkan kemanusiaan, atau dengan lain perkataan, hendaklah berdasarkan akhlak dan budi pekerti.9
Menurut filsafat Socrates segala sesuatu kejadian yang terjadi di alam adalah karena adanya “ akal yang mengatur ” yang tidak lalai dan tidak tidur. Akal yang mengatur itu adalah Tuhan yang pemurah. Dia bukan benda, hanya wujud yang rohani semata – mata. Pendapat Socrates tentang Tuhan lebih dekat kepada akidah tauhid. Dia menasehatkan supaya orang menjaga perintah – perintah agama, jangan menyembah berhala dan mempersekutukan Tuhan.

first time….

this morning was the first time i used my blog…honestly, i didnt like to use a blog because i think it’s not my priority..but i have to make a blog ! and i hate this part! hahahaha…..

saya terpaksa membuat blog karena ini untuk keperluan kuliah..yoweslah nurut aja daripada cari masalah..hahahaha… oke, at the beginning i didn’t like it…but now im trying to love it !~

semangat anggita !!!!!!! ^^

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!